sebelum membahas saluran transmisi, ada baiknya kita tinjau satu persatu parameter-parameter yang ada dari suatu saluran transmisi tersebut.

diagram sistem kelistrikan

sistem tegangan

sistem tegangan yang digunakan secara umum dalam saluran transmisi yaitu sistem tegangan fasa-netral dan sistem tegangan fasa-fasa.. tegangan rendah biasanya didefinisikan untuk tegangan yang lebih kecil atau sama dengan 1kV, sedangan tegangan tinggi adalah untuk besar tegangan di atas 1kV.. secara detail, tegangan tinggi adalah tegangan dengan besaran kurang dari 220kV/230kV hingga 1kV, tegangan ekstra tinggi adalah tegangan dengan besaran antara 220kV/230kV hingga 765kV, dan tegangan ultra tinggi adalah tegangan dengan besaran lebih besar dari 765kV.

adapun sistem transmisi untuk setiap negara berbeda-beda bergantung dari kemajuan teknologinya, sistem tegangan transmisinya, besar daya yang disalurkan, dan jarak penyaluran tenaga listrik tersebut.

sistem tegangan yang digunakan di Indonesia adalah sebesar 30kV, 66kV, 110kV, 150kV, 220kV, 330kV, dan 500kV.

untuk pemilihan tegangan sistem transmisi, seiring dengan meningkatnya daya penyaluran dan jarak, maka tegangan penyaluran transmisi berubah dari high voltage menggunakan ekstra high voltage, kemudian ultra high voltage. hal ini disebabkan karena semakin panjang saluran berarti :

  1. impedansi semakin besar
  2. pengaturan tegangan semakin besar
  3. rugi-rugi semakin besar
  4. sudut pergeseran antara sisi terima dan sisi kirim semakin besar
  5. derajat kestabilan semakin besar

 

sehingga solusinya adalah dengan mempertinggi besar tegangan maka didapatkan:

  1. drop tegangan semakin kecil
  2. penghematan pemakaian konduktor
  3. efisiensi, yaitu kerapatan arus konstan sehingga efisiensi semakin tinggi

dan jika dianalisis dari sistem kestabilan:

  1. stabilitas sistem lebih baik
  2. fleksibilitas operasi semakin baik
  3. untuk mengakomodasi perkembangan beban
Advertisement